Sabtu, 04 April 2009

membaca memindai

A. Teori membaca

Model teori membaca lahir dari perspekif bagaimana makna diangkat dari bacaan. Inti proses membaca adalah seseorang berusaha memahami isi pesan penulis yang tertuang dalam bacaan.

Pemeroleh makna berangkat dari beragam sudut. Dari sudut itulah pandangan para ahli dibedakan. Ada tiga pandangan tentang bagaimana makna diperoleh yang melahirkan tiga model teori membaca. Tiga model teori itu antara lain:

1. Model Teori Bottom-Up

Memandang bahwa bahasa yang mewadahi teks menentukan pemahaman. Secara fisik, ketika orang melakukan kegiatan membaca, yang dipandang adalah halaman-halaman bacaan yang posisinya di bawah (kecuali membaca sambil tiduran!). Secara literal, bottom-up berarti ‘dari bawah ke atas’. Maksudnya, makna itu berasal dari bawah (teks) menuju ke atas (otak/kepala). Secara harfiah, menurut teori ini teks-lah yang menentukan pemahaman.

Inti proses membaca menurut teori ini adalah proses kengkodean kembali simbol tuturan tertulis (Harris & Sipay, 1980). Membaca dalam proses bottom-up merupakan proses yang melibatkan ketepatan, rincian, dan rangkaian persepsi dan identifikasi huruf-huruf, kata-kata, pola ejaan, dan unit bahasa lainnya.

Tugas utama pembaca menurut teori ini adalah mengkode lambang-lambang yang tertulis menjadi bunyi-bunyi bahasa (Harjasuna, 1996)

Brown (2001) menyatakan bahwa pada proses bottom-up membaca terlebih dahulu mengetahui berbagai tanda linguistik, seperti huruf, morfem, suku kata, kata-kata frasa, petunjuk gramatika dan tanda wacana, kemudian menggunakan mekanisme pemrosesan yang masuk akal, koheren dan bermakna.

Agar bisa memahami bacaan pada teori ini, pembaca membutuhkan keterampilan yang berhubungan dengan lambang bahasa yang digunakan dalam teks.

2. Model Teori Top-Down

Teori ini dikenal sebagai model psikolinguistik dalam membaca dan teori ini dikembangkan oleh Goodman (1976). Model ini memandang kegiatan membaca sebagai bagian dari proses pengembangan skemata seseorang yakni pembaca secara stimultan (terus-menerus) menguji dan menerima atau menolak hipotesis yang ia buat sendiri pada saat proses membaca berlangsung.

Pada model ini, informasi grafis hanya digunakan untuk mendukung hipotesa tentang makna. Pembaca tidak banyak lagi membutuhkan informasi grafis dari bacaan karena mereka telah memiliki modal bacaan sendiri untuk mengerti bacaan.

Proses membaca model ini dimulai dengan hipotesis dan prediksi-prediksi kemudian memverifikasinya dengan menggunakan stimulus yang berupa tulisan yang ada pada teks.

Inti dari model teori Top-down adalah pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran yang lebih tinggi. Pembaca memulai tahapan membacanya dengan membaca prediksi-prediksi, hipotesis-hipotesis, dugaan-dugaan berkenaan dengan apa yang mungkin ada dalam bacaan, bermodalkan pengetahuan tentang isi dan bahasa yang dimilikinya,

Untuk membantu pemahaman dengan menggunakan teori ini, pembaca menggunakan strategi yang didasarkan pada penggunaan petunjuk semantik dan sintaksis, artinya untuk mendapatkan makna bacaan, pembaca dapat menggunakan petunjuk tambahan yang berupa kompetensi berbahasa yang ia miliki. Jadi, kompetensi berbahasa dan pengetahuan tentang apa saja memainkan peran penting dalam membentuk makna bacaan.

Jadi menurut teori Top-down dapat disimpulkan bahwa pengetahuan, pengalaman dan kecerdasan pembaca diperlukan sebagai dasar dalam memahami bacaan.

3. Model Teori Interaktif

Model ini merupakan kombinasi antara pemahaman model Top-Down dan model Bottom-Up. Pada model interaktif, pembaca mengadopsi pendekatan top-down untuk memprediksi makna, kemudian beralih ke pendekatan bottom-up untuk menguji apakah hal itu benar-benar dikatakan oleh penulis. Artinya, kedua model tersebut terjadi secara stimultan pada saat membaca.

Penganut teori ini memandang bahwa kegiatan membaca merupakan suatu interaksi antara pembaca dengan teks. Dengan teori itu, dijelaskan bagaimana seorang pembaca menguasai, menyimpan dan mempergunakan pengetahuan dalam format skemata. Kegiatan membaca adalah proses membuat hubungan yang berarti bagi informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya (skemata).

Menurut pandangan interaktif, membaca diawali dengan formulasi tentang hipotesis tentang makna, kemudian dilanjutkan dengan menguraikan makna huruf, kata, dan kalimat dalam bacaan. Model interaktif adalah model membaca yang menggunakan secara serentak antara pengetahuan informasi grafik dan informasi yang ada dalam pikiran pembaca.

Proses membaca menurut pandangan interaktif adalah proses intelektual yang kompleks, mencakup dua kemampuan utama, yaitu kemampuan memahami makna kata dan kemampuan berpikir tentang konsep verbal (Rubin, 1982). Pendapat ini mengisyaratkan bahwa ketika proses membaca berlangsung, terjadi konsentrasi dua arah pada pikiran pembaca dalam waktu yang bersamaan. Dalam melakukan aktivitas membaca, pembaca secara aktif merespon dan mengungkapkan bunyi tulisan dan bahasa yang digunakan oleh penulis. Selain itu, pembaca dituntut untuk dapat mengungkapkan makna yang terkandung di dalamnya atau makna yang ingin disampaikan oleh penulis melalui teks yang dibacanya.

Kesimpulannya, dapat dikatakan bahwa membaca pemahaman merupakan proses aktif yang di dalamnya melibatkan banyak faktor. Keterlibatan faktor-faktor itu bertujuan untuk memperoleh pemahaman melalui proses interaksi antara pembaca dengan bacaan dalam peristiwa membaca.

Ketiga model teori membaca di atas mewarnai pandangan para ahli tentang membaca. Jika diamati secara teliti, tulisan atau bahasan tentang membaca dalam buku-buku dan jurnal-jurnal, sedikit atau banyak, menyentuh ketiga teori di atas. Selalu ada benang merah yang menghubungkan pandangan para ahli dengan model teori membaca di atas.

B. Pengertian Membaca

Membaca mempunyai pengertian yang beragam. Ada yang rumusannya panjang dan ada pula yang pendek. Penyebabnya pun bermacam-macam. Berikut beberapa contoh pengertian membaca:

1. Membaca adalah proses mengenali makna simbol tertulis

2. Membaca adalah proses melisankan bahasa tulis

3. Membaca adalah kegiatan mempersepsi aturan tertulis untuk menangkap makna yang dikandungnya

4. Membaca adalah proses berpikir dan bernalar

5. Membaca adalah penerapan seperangkat keterampilan kognitif untuk memperoleh pemahaman dari tuturan yang tertulis

6. Membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan pembaca untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bacaan itu, yang diikuti oleh penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.

Dari banyak dan beragamnya definisi membaca seperti contoh diatas disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Landasan teori yang digunakan untuk merumuskan pengertian membaca itu berbeda-beda

2. Kenyataan bahwa membaca adalah kegiatan mental yang sangat rumit dan unik

3. Tujuan perumusan pengertian membaca itu berbeda-beda.

4. Aspek yang ditekankan berbeda

5. Perumusnya berbeda

6. Ruang lingkup yang tercakup dalam definisi itu berbeda

Jika diamati, perbedaan antara pengertian-pengertian membaca itu lebih bukan pada substansi pengertiannya, melainkan terletak pada lingkup masalah yang dimasukkan dalam pengertian itu. Berdasarkan substansinya, pengertian-pengertian membaca itu dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu:

1. Pengertian Sederhana, yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna.

2. Pengertian Agak Luas, yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan.

3. Pengertian Luas, yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses ‘mengolah bacaan’ yaitu memaknai bacaan secara mendalam, meliputi proses memberikan reaksi kritis-kreatif terhadap bacaan itu. Definisi ini sering disebut sebagai definisi modern, yang mendasarkan diri pada pandangan modern tentang membaca.

C. Gambaran Proses Membaca

Sebagai suatu proses, membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks. Burns (1996) menjelaskan bahwa dalam proses membaca itu terlibat berbagai aspek yang meliputi:

1. Aspek sensori, yakni kemampuan untuk memahami simbol-simbol tertulis

2. Aspek persepsi, yakni aspek kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat pembaca sebagai simbol atau kata

3. Aspek urutan, yakni kemampuan mengikuti poal-pola urutan, logika, dan gramatika teks

4. Aspek pengalaman, yakni aspek kemampuan menghubungkan kata-kata dengan pengalaman yang telah dimiliki untuk memberikan makna itu

5. Aspek asosiasi, yakni aspek kemampuan mengenal hubungan antara simbol dan bunyi, dan antara kata-kata dengan yang direpresentasikan

6. Aspek belajar, yakni aspek kemampuan untuk mengingat apa yang telah dipelajari dan menghubungkannya dengan gagasan atau fakta yang baru dipelajari

7. Aspek afektif, yakni aspek kemampuan untuk membuat inferensi dan evaluasi dan materi yang dipelajari

8. Aspek afektif, yakni aspek yang berkenaan dengan minat pembaca yang berpengaruh terhadap kegiatan membaca

9. Aspek konstruktif, yakni kemampuan untuk mengkonstruksi makna bacaan

Gambaran mengenai proses membaca itu mengisyaratkan bahwa proses membaca berlangsung kompleks dan rumit. Akan tetapi, gambaran yang rumit itu secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tahap memindai simbol bahasa yang berupa huruf, kelompok huruf, dan kata sebagai input grafis

2. Tahap mengangkat makna simbol bahasa yang berupa huruf, kelompok huruf, dan kata itu menurut satuan-satuannya, yaitu makan frasa, klausa dan kalimat

3. Tahap mencari data berupa pengetahuan dalam skemata yang relevan dengan topik yang dibahas dalam bacaan

4. Tahap mengintegrasi pengetahuan yang relevan itu dengan makna yang diperoleh dari satuan-satuan bahasa (hasil kegiatan tahap kedua)

5. Tahap memahami makna bacaan berdasarkan interaksi antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya degna makna teks bacaan

6. Tahap menggolongkan dan membandingkan informasi (makna) yang diperoleh ke dalam kategori tertentu

7. Tahap menganalisis dan menguraikan satuan-satuan makna (ide) yang ditemukan dalam bacaan

8. Tahap mensintesis, menyimpulkan, dan menilai ide yang terekam ke dalam sintesa tertentu

9. Tahap mengonseptualisasikan makna dan simpulan-simpulan yang dilihat menjadi makna tunggal milik pembaca pribadi

10. Tahap membangun skemata baru

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar